Hari itu sangat ramai, aku dan andri gak bisa berkata apa-apa, sambil berfikir apa sebaiknya kita hengkang dari tempat yang ramai ini, tempat in cukup kondusif untuk kami berbincang sayang untuk dilewatkan, aku tak tahu yang ada dipikiranku bagaimana aku bercerita dan menenangjkan diri, ini dua hari sebelum aku ujian, aku harus pastikan aku dalam kondisi stabil. Aku berucap berulang kali,
“ Apap kita cabut aja ndri?”
Lalu ia berkata seklai lagi “ ayo kita cari tempat dulu, klo gak ada tempat baru kita cabut dari sini “
aku terima sarannya, kita bergegas masuk ke dalam, sebeumnya aku menorah ke belakang „ memang space parker yang sudah penuh aku hamper putus asa kalau kita dapat tempat yang asik. Kami berdua menghela nafas panjang, sepertinya malam ini sangat panjaang
Aku melihat keramaian, hampir semua pengunjung ditemani oleh secangkir coklat atau kopi panas yang beragam macamnya, musik menggema di keramaian,lampu essential menghiasi di beberapa sudut dinding, terkesan romantis tapi konsepnya membuat pengunjung terkesan akrab, semua ikut bernyanyi, ramai sekali, asap rokok berrkumpul ceria dan bergerumbul„,asap asap yang meniunjukan, ketangguhan, kecantikan dan karakter bagi para penikmatnya„ aku hanya melihatnya dan melihat mereka yang sedang mencoba “shisha” lalu bercengkrama satu dengan yang lain, semua terpola dengan sangat teratur, hanya duduk, memesan secangkir kopi, bercerita , bernyayi dan bercanda, hamper semua yang megunjungi tempat in terpola seperti itu„ aku melangkah melewati mereka, seolah mengabaikan tapi kucoba melihat sekeliling dengan perasaan heran, aku menghela nafas lagi„ melihat muka setiap pengunjung yang ada disana, sungguh anehtapi aku benar- benar melakukannya. Kali ini aku tersentak dan meratapi nasibku lagi, aku melihat garis wajah yan beerbeda-beda, mereka terkoordinasi dan berjalan seperti system, semua bergerak dengan terpola, memesan, bercanda, berbincang dan bernyanyi, namun perasaan dan garis wajah tidak dapat menbgabaikan bebagai keragaman yang dapat aku lihat, tidak dapat kusimpulkan apapun, perasaan menutup semua hipotesis ku, aku tau “ rasa “ tak bisa membohongi semua, aku membatin denga menghela nafas sekali lagi„ aku melihat lagi mereka.. ya mereka yang berkunjung kesini, terlihat memiliki tujuan yang sama tapi aku sadar mereka berbeda, sangat berbeda, aku tidak berpusat pada memesan atau bernyayi bersama , perbedaan diantara kesamaan yang ada, aku melihat rasa dan garis wajah yang bebeda, lalu aku meyakini, ada pembeda diantara kesamaan ini, yaitu rasa „„ya rasa“ TIdak semua bahagia, dan tidak semua bersedih!!!!!”
Aku bergumam sendiri„ aku menahan tawaku sendiri diantara konyolnya pikiranku, aku membawa rumit smuanya„ tapi sungguh aku merasa tertolong.„ dan
Aku kembali melihat garis wajah mereka, ada sepasang kekasih yang sedang berdiam diri, ya mereka semua memesan minuman tapi dengan wajah yang cemberut aku yakin mereka sedang berantem„ hahah, lalu ada lagiyang memesan dengan wajah yang ceria, aku yakin dia pasti baru gajihan (merasa sok tau mode on), lau ada lagi yangememsan minuman dengan tatapn yang kosong , sendiri dan menunggu, aku tak tahu orangitu sedang menunggu apa, tersirat dari wajahnya seperti ia tidak menginginkan apapun untuk hari ini.
LAlu aku tersadar„ tenyata manusia diantara kesamaannya yaitu berbafas, bergerak dan menangis lalu tertawa dan ada kisah pembedanya diantara problema tersimpan yang hanya mereka yang tahu, “Rasa menjadi saksinya” rasa tersimpan dalam hati, dan hanya aku, kamu dan mereka yang tau apa yang sedang kamu rasa, lalu aku berbohong lagi, mukaku, mukamu dan muka mereka yang terlihat ceria mungkin menyimpan rasa sakit yang hanya aku, kamu dan mereka semua yang tahu..
Aku tidak ingin menyebut manusia seperti topeng, karena tidak semua manusia menyimpan perasaan sendiri„
Ya, aku meyakini diriku bukan hanya diriku saja yang memiliki masalah, lalu kataku berucap untuk kesekian kalinya
“ Hah, setiap manusia memiliki maslah yang berbeda dan sellu menganggap masalahnya aling berat”Keluhku..
“ Kenapa gie?” tegur Andri sesaat
“ Eh gpp” lalu aku menorehkan senyum paling manis,
Denganmu sahabatku, aku melewati nya dengan sangat tegar, kami memesan snow chocolate ice,aku mulai menyukai minuman ini, aku memulainya dengan bercerita tentang kisah konyol, lalu bercerita tentang cinta yang menurut kita berdua sangat complicated. Lalu aku bergumam sendiri sungguh ansyik berbincang dengannya,aku hamper mngabaikan masalahku sendiri, saling bercerita sampai lupa waktu itu yang aku lakukan, sampai akhirnya semua pembicaraan ini terhenti saat aku mengingat tempat yang sedang kami duduki adalah tempat yang taka sing aku duduki,
Ya itu pertama kalinya anggit membawaku ke tempat ini, dengan situasi yang sama, dimana aku butuh hiburan dan hanya ingin bercerita.
Aku teringat dirinya disaat itu memakai baju warna hijau, aku tertawa bersama andri dan mengingatnya kembali, aku seperti tertarik pada kisah lamaku, setahun yang lalu, aku duduk deng posisi yang sama berbincang dengan tema yang berbeda namun rasa kembali mengantuiku, rasa tempat ini tak berbeda, aku melihat sekelilingku, semua berucap bernyayi dan tertawa, kau melihatnya seperti opera bisu, semua bergerak lamban tanpa suara, aku melihat andri berucap, sangat asyik sekali, kami bercanda, namun pikiranku masih bergulat akan uvoria dirinya yang masih terasa di benakku setahun yang lalu.LAlu kami beranjank membicarakan nya, , Andri pernah bertemu dengan nya sekali atu dua kali, tapi aku yakin ia tak begitu paham akan kisahku, aku ingin mengabaikannya, kupaksa„aku mencoba mengabaikannya lalu mengikhlaskanya, sakit memang tapi waktu tetap berjalan dan menganggapnya sebagai kisah yang tak terlupakan, ini adalah penghargaan untuknya,tak perduli apa yang ia rasa./ walaupun aku yakin aku yang lebih sering tersakiti, tapi aku bersyukur pernah mennyayangimu.
Menghela nafasss….
aku mengbaikan semua, dan mulai berbincang yang lain.. aku menikmati hari ini sungguh
LAlu semua berakhir„ aku tak mengira sudah selarut itu,coklatku sudah habis, kami berbicara kisah tentangmu dan masalahmu .. tentangku dan masalahku„ dia sahabatku „ dan selamanya menjadi adik dan sahabatku, .
waktu yang larut, aku pun melihat bulan kian bersiaga„sambil berjalan di parkiran kami cengegesan seperti orang aneh„Andri mulai mengendarai motor, aku bersiaga memasang helm ku, kumelihat wajah dibalik spion.. seperti adikku, aku bergumam
hei kamu orang yang 3 tahun lebih muda dariku dan aku 3 tahun lebih tua darinya, aku melihat sosok adik didepanku, dan aku mulai teringat adikku di bogor dengan kelakuan yang hampir menyamainya„ Andri,. andri„ hahah