HAri itu, tepatnya Juni,sebuah mimpi terbukti pasti, entah dejavu ataukah keinginanku, JOgja menghampiriku seketika, Aku diterima di UGM„ bahagia„?? „ ya cukup bahagia„ menyisakan tangis dan lambain tangan untuk orang-orang terkasih,tak dapat berfikir karena terlalu cepat„ memang impianku bukan disini„ sebuah impian lama mengingatkaku Jas Almamater kuning kebanggaan„ tapi takdir menuntunku disini, JOgja„
” selamat datang jogja, selamat tinggal Bogor” disela nafas terucap„ AKU SENDIRI… ya benar„ aku benar2 sendiri„ gak ada tiga, dua bahkan satupun ku tak tahu bagaimana aku bisa hidup, kujalani hari dengan berfikir, seperti apa disana, aku belum pernah menginjakan kakiku di kota itu„ aku keras! Keras kepalaku yang menuntuntku untuk hidup sendiri„Sering aku jalan sendiri dan memikirkan, menangis, lalu kembali membuka mata, aku sendiri lagi„namun keluhku justru membuatku menyadari sekian lama ku disini semakin banyak hal yang aku dapatkan„JOgja Mengajarkanku Cinta..
JOGJA DAN CINTA
Hmmm„ rasanya kangen keluargaku„seribu kali aku emngucapkannya„namun diantara keluhku, aku baru menyadari JOgja mengajarkan aku sebuah arti yang sangat penting„ pengorbanan, dan rasa sayang yang terkadang terahalangi oleh gengsi yang besar untuk mengatakan ” aku kangen” halah..
Sabtu„ entah tanggal berapa itu„ aku bergegas untuk kembali ke jogja.
seperti biasa„ melankolisku kambuh lagi„mau nangis tapi gengsi, huh„ Bogor aku pasti kanggen saat ini lagi„aku diantarakan oleh 2 orang yang paling aku sayangi, dikala itu hujan, kalo gag salah aku kehujanan, si kedua mendahuluiku, sementara aku tak lepas dari boncengan si pertama,
” yah ujan„ buruan atuh!” tukasku„
” yah neng, dapet keretanya gag yah” balasnya,
hup hup„aku tak melihat bayangan si ke dua, ternyata motornya terlalu cepat„ memang kebiasaanya mendengarkan musik sambil naik motor„ dasar orang aneh,
,aku masih berlindung dibelakang si ke satu, sambil menghitung waktu yang berjalan lebih cepat dari dugaaanku„
“17.30”….. hufff„ sial„ kehabisan tiket„ apa lagi ini!!!
oke bola mataku kembali berputar,ini menandakan aku sedang berfikir kerass!, apa lagi yang harus dilakukan, si kesatu cuman manggut-manggut, si kedua masih sok cool dengan musik di telinganya„ oke kita naik Ekonomi!!tukas pertama..
semua setuju„ kita berangkat..
Gag kerasa kenapa hatiku agag bimbang dikala itu„ hujan, gelap, kereta ekonomi, 1 jam, gambir, grrrrr„,bimbang tapi tetap berjalan, melihat si pertama mengeluarkan uang receh berjatuhan„si kedua tetap dibelakangku dengan rambutnya yang basah dia tetap terlihat menjengkelkan
mereka semua calon penunmpang melihat kami„ entah heran ataukah iba,
lalu aku berkomat kamit lagi, hujan, gelap, kereta ekonomi, 1 jam, gambir, lalu ditambah lagi pikiran aneh„ desek desekan, kecopetan, kriminal, diancem copet„ uugghh,please!
upsss jam berapa ini??? 06.30! aku tau bagaimana susahnya dan sesaknya kereta di jadwal itu„bukannya aku manja„ tapi aku takut„ bukan buat diriku tapi untuk keduanya„
1, 2, 3.. detik keempat semua buyarrr!!
semua itu benar„ gerbong terakhir„ gelap„ gerbong paling gelap diantara gerbong yang lain„ siiiall kedua„ tidakkk„ oke aku mulai menghitung keresahanku, gelap terjadi„ 1 jam pasti,gambir tujuan, lalu gimana dengan copet dan yang lain2..aku memutarkan mataku lagi„ si pertama tetap disampingku„ aku duduk dia berdiri„ karen tak cukup tempat lagi„ si kedua dismapingku, persis disebelah pintu yang diatasnya ada karat bertuliskan Exit..
menit pertama„ kedua„ ketiga„ tenang„ aku mulai tenang„tiba-tiba
Pemberhentian pertama„,sepertinya aku kenal„ oke kalo daerah ini aku tau„ ” stasiun Depok” masih kawasan yang aku kenal walaupun agag rabun, seketika kondisi semakin sesak„ sikedua dengan coolnya tetap bergulat dengan musik ditelinganya„ tiba2 aku pusing„semua sesakk„ keadaan semakin mendesak si pertama, berdempetan, saking gelapnya pandanganku agag kabur melihat wajah orang2 disekelilingku„ya ampun apa ini„ pikiran aneh ini menghantui lagi, kenapa tatapan mereka aneh„
Lalu si pertama berfikir„ aku tau dia agag kesulitan, tapi aku tau dia memang yterlihat tenag tapi klo udah keringetan aku tau ini pasti ada yang gag beres..
” neng, lw tau gag ni kereta lewat gambir apa gag”
mendengar pertanyaanya„ satu,detik, dua detik , tiga detik, baru sadar„ lalu suara jeritanku tidak keluar dari mulutku namun sampai keubun-ubunku„
Ya Allah„ aku gag tau ni arah kereta bakalan kemana!
aku cuma geleng-geleng, si pertama mulai resah„ aku dah ketakutan„ suasana makin gelap karena bayangan orang yang berdesakan, aku berfikirrr„ tidak bisa berfikir„ berfikir lagi, tidak bias lagi.. harus percaya sama siapa?? aku takut,
pemberhentian kedua….”UI”
melihat seorang ibu setengah baya duduk diseberangku, entah engapa, melihat ibu itu aku seperti menemukan pencerahan, well .. satu ibu„ sudah membuatku nyaman„
“ BU, maaf , kereta ini berhenti di stasiun gambir gag ya?” masih tegang dan aku mulai cemas..
“ Aduh dek, klo ekonomi gag ada yang berenti di gambir,” suara payau ibu membuatku semakin cemas dan lemas.. tidak apa lagi nih„ si pertama hanya bias ngeliatku dengan nada mencoba menenangkan„ “gimana donk, ambil pilihan” tukasnya.
“ terus yang stasiun yangdeket gambir mana ya?” tanyaku kembali
“ wah, saya gag hapal, tapi klo jalutr ini ke kota kamu turun di pandawa aja, jangan yang di manggarai ya, dek kenapa memilih gerbong ini?” sambungnya
“ dapetnya ini bu,” jawabku
Dengan perasaan cemas, aku berharap ibu memberikan alas an yang tidak membuat jantungku berkata berhenti!
“ disini gelap, kalian gag tau Jakarta, jaangan asal berbicara dengan siapapun, ibu turun setelah stasiunini, kalian segera ambil gerbong yang terang, disini bahaya”
OOOHHH GOD„ apa ini, mendenga kata terakhirnya mukakau pucat, seketika ib menghilang di pemberhentian ketiga, tiba2 kepalaku pusing, si pertama menduduki tempat si ibu, si kedua masih asik di sebelah pintu, aku tidak bias berkata apa, aku Cuma takut, mengapa beberapa oranfg sekeliling ini melihatku, aku takut.
“ NEng lari aja yuk ke tempat itu” bisik pertama , kumohon alas an logis sipertama setidaknya membantuku mengatasi rasa takut ini, akupun sudah mencari akal gimana caranya agar aku dan keduanya bisa lewat dengan sukses„, rasanya lorong menuju tempat terang terlihat sangat jauuh„
“kenapa?” tanyaku
“ c kedua itu, dia diincer ama yang di depannya?”
“ maksudnya”
“ dia ngeluarin hp, gimana neng? Dia diliatin terus?”
Seketika wajah sosok hitam berjaket kulit depan si kedua tidak bergeming, matanya hanya tertuju ke kantong arah musik itu berasal, aku melihatnya persis di depanku, aku terisak rasanya mau nangis tapi tidak bisa. Aku cemas„ takut dia kenapa2 „
Bagaimana ini…???
Tak ada jalan„ aku menarik kedua dan bergegas„, tak kuat entah bisikannku itu menggelegar atau tidak
Aku berkata “ LARI” cepat..entah bagaimana„semua berjalan cepat kita bertiga lari…ketempat yang lebih aman..
TErang.. kau melihat cahaya terang di depan, tak terpikirkan apa, tak terasa hentakan sepatuku mungkin menggelegarkan lorong hitam sepanjang gerboong kereta itu, , gerbong hitam yang sampai aku tak ingin melihat bahkan mengenal siapa saja yang ada disana„ aku sudah taksabar lagi„ lorong berikutnya hamper sampai, seperti melihat bulan di kegelapan, seperti melihat matahari dikala subuh, aku bersyukur„ aku memegang erat tasku yang berat„ si pertama menggendong tasku yang satu„ kurasa lebih berat dari tas yang kugendong, tak lupa ia tetap menggenggam dompet itu„ si kedua kuliaht sudah terlihat panic, aku tak memngira„ ia dibuntuti„ kenapa dia mengikuti kita ?? “TIDAKK„ cepat cepat„ topi pria misterius itu dihempaskannya, mengapa gelagatnya seperti tergesa-gesa„ kami semakin melangkah cepat, terengah- engah, dan akhirnya kami pun lari, dan
Akuingin mengangis„ aku melihat wajah keduanya„ kau terisak karenanya, aku benar2 takut„ yang aku khawatirkan dia, orang kedua yang aku cintai„ aku hanya ingin disebelahnya dan memastikan dia tetap dibelakang kami„ aku tak bisa berfikir„
Selangkah lagi nak„ ayo cepat„ ketiganya semakin melangkah„ ..menerobos himpitan apapun didepannya
Lalu tiba2 ia terhenti„ pria berjaket hitam bertopi itu seketika terhenti dikerumuan terakhir, sambil menatapku, matanya tak pernah lepas„
Dia dimana??? Si kedua?? Hupp disebelahku, ..
Aku mulai pusing„ kenapa terik sekali„ kuliahat kerumunan itu, aku, kita, berada di tempat yang aman„
Aku tetap terpaku dipojokan dengan wajah cemberut, kedua tangan tetap memegang tas, si pertama mulai tenang dan memastikan dompetnya tidak terjatuh atau hilang di tempat dimanapun, si kedua measa bersalah dan menyembunyikan HP nya yang membuat masalah, aku tetap cats cetus mengingatkan mereka hati2. Aku tak perduli sebawel apa aku„
Dihimpitan semua orang yan terlihat baik, aku melihat ke jendela,aku hamper tidak bisa melihat apa yang ada diluar, semua kabur seperti bayangan2 yang bergerak cepat, kereta ini membuatku mual„
Semakin kabur dan semakin kabur„
Lalu„ aku berfikir„, ku meliahat rumahku, yang tidak begitu besar„ ramai sekali, ada ua, paman, bibi, saudara saudara jauh, semua hadir„ mereka ada yang tersenyum , ada yang berbincang- bincang, tertawa, kegembiraan dan kegembiraan, semua berkumpul„ senangnya.
Aku kemudian lari ke lantai 2, tak banyak perubahan, kali ini tetangga-tetanggaku berkumpul, entah apa yang mereka bicarakan samara samarterdengar olehku, mereka memakai pakaian yang sedang hit sekali tahun 80 an, mengapa mereka memakai pakaian seperti itu??
Lalu aku beranjak ke suatu tempat yang tak asing bagiku, tapi banyak perubahan„ tempat tidurnya tak sekuno itu„
Berdirilah seorang wanita cantik dengan daster yang pernah aku lihat„ tapi daster itu terlihat bagus„ beda sekali dengan apa yang kulihat sebelumnya„
Wanita itu disamping keduanya„ pria tegap„ yang perutnya hampir membesar,..
Aku terengah„ tba2 berlari anak kecil laki2 lucu, kurasa berumur 6 tahun„ disusul anak kecil perempuan„ lalu memegang tangan anak laki-laki itu„ aku rasa itu adiknya„
“ Mamah, abah…” keduanya memanggil pria dan wanita itu„
Dan ternyata orang tuanya..
Aku tak bisa melihat mereka dengan jelas„ ibunya menggendong bayi kecil, mungil sangat lucu, mirip sekali dengan keduanya, aku rasa mereka berkeluarga„
Aku mau menghampirinya„ tidak hanya didepan pintu„ sampai akhirnya
Si anak perempuan ditarik oleh wanita itu, disusul ayahnya„ “ Ayo makan” geram ayahnya
Aku lihat wajahnya„ wajah itu„ taka sing bagiku, wajahmungil berbibir merah, berambut ikal dengan paras putih, pipi tembem„
Itu..
Dia..
Sepertimya..
Aku tahu„,
Itu….
……
…..Itu„, Aku„,
Mau dibawa kemanaa aku, aku hilang kendali„ apa ini„ apa ini„ dari gerbong misterius sampai hal aneh terjadi padaku„
Aku lari„ mereka cepat sekali jalannya„ mereka mau kemana„ aku terus membuntuti„
Mereka berhenti„ dan seketika anak kecil itu menangis„ rumah ini gelap, dan kosong, mengapa ?? tanyaku,?? Mana saudaraku,?? Tetanggaku,?? Paman„ bibi?? Ua?? Aman mereka semua„ mengapa kosong„ mengapa ??
Kulihat anak kecil itu sendiri„ duduk di depan jendela rumahku yang sangat berbeda dari pandangan awalku„ dia mengeluarkan air mata„ disusul kakak nya yang sedang menggendong adiknya„ mereke bertiga menangis„ si pertama berusaha menenangkan adiknya„ aku rasa terlambat „ini ada apa?? Aku pusing„ tiba – tiba bola mataku berputar lagi .. berputar cepat , dan cepat„ seperti awal, aku melihat semua bergerak cepat„ aku tidak bisa melihat jelas„ semua bergerak cepat..
Sampai,” duk” benda apa ini.„ aku terbentur„ terik sekali„ dimana ini„ ya „ aku lihat jelas„ bahu- bahu orang dengan ukuran yang berbeda„ warna berbeda„ bau yang berbeda„ sulit aku ada dimana„ lalu aku teringat si pertama dan kedua„ mataku mencari cari mereka lagi, aku hamper nangis„ apa ini,
Kubuka mata mencoba tenag„ aku, aku masih dikereta„ semua memandangiku„ bahu itu aku kenal bahu itu, pertama, kedua„ aku memegangi mereka„ aku takut..
“Bengong mulu lu!” celoteh si kedua mengagetkanku
Bengong?? Aku tersadar kalo selama ini aku bengong„ „
Apa yang aku rasakan ini merupakan suatu kekhawatiran terbesar„ apa arti dari semua khayalan sekilas yang mulai menggangu pikiranku „ cukup 1 menit aku bergulat melihat tokoh diriku beropera sendiri„ prolog yang aneh„..
Entah mengapa suasana menjadi sendu,
Aku melihat mereka tertawa„ hamper sebagian besar dari penumpang disini disibukan oleh aktifitas nya masing2,bencengkrama sambil tertawa, membaca Koran sambil menikmati rokok, tidur dipangkuan orang terkasih sampai berantem dimuka umum, aku melihat mereka seperti tokoh tokoh dinamis yang statis, pikiran pikiran dibenakku membuat mereka berdialog bisu„
Semua orang punya masalah„dan selalu menganggap masalahnya paling berat„ itulah yang selalu kuucapkan untuk diriku sendiri, entah pria perokok itu memiliki masalah apa, atau wanita yang tertawa itu belum tentu wanita paling bahagia dengan tiadak memiliki satu kasuspun didunia ataupun pasangan yangh sedang berantem itu merupakan pasangan yang paling bermasalah„
Hanya mereka yang tau..
Begitupun aku„
Pikiran 60 detik itu meresahkan batinku„, malasah ini sudah ku fikirkan dari dulu, aku bahkan hamper melupakannya, namun kembali lagi, mengingat seorang anak kecil yang ingin membahagiakan adiknya„,
Hanya aku dan dia, lalu adik kecilku yang harus akulindungi,
Ia tak punya uang, begitupun aku , menangis menunggu orang terkasih pulang, lalu bagaimana jika mereka tidak pulang„ ya Orang tua ku„
Aku sedih melihat semua ini„ kupandangi mereka dengan rasa iba, si pertama, lau si kedua„ entah sampai kapan waktu akan menemaniku„ menemaniku untuk selalu mencintai mereka, diantara acuh ku, ada rasa sayang yang mereka tak mengerti, namun akupun percaya mereka memiliki rasa yang sama„
Begitu jauh aku menikmati rasa ini, teralalu lama aku bersama mereka, aku tau perkembangan mereka terlalu sakit jika berpisah„ bukan hanya untuk hari in, tapi jika waktuku, dia dan kita sudah habis, entah dunia selanjutnya akankah kalian tetap menyayangiku seperti ini, akankah rasa sayangku tetap ada„ bahkan mungkin kita akan dipertemukan dengan keadaan yang tak saling mengetahui, berada di tempat dan kondisi yang berbeda, memikul dosa dan membawa amal yang kita perbuat„, kelak kita akan sendiri –sendiri bahkan tak saling perduli
Inilah waktuku„ sedikit waktu untuk bersama mereka„ untuk mengenal keduanya dengan perasaan sayang
Lalu aku berkata lagi dalam hati…
Waktu ku berapa lama lagi???
Lalu akupun menangis kemudian, mataku berkaca melihat mereka berdua„ entah yang satu sedang berfikir apa, dia hanya terdiam sampil melihat kaca jendela, yang satu lagipunbegitu seolah kami bertiga sdang merenung..
Lalu aku berkata lagi„
Waktu ku berapa lama lagi??
Aku tidak bisa menahan pecahan air mata ini„ lalu aku berpaling
Aku berkata lagi
Demi Allah, aku hanya memiliki mereka berdua„
saudara ku, yang aku sayangi„ sedarah denganku„ dan aku miliki..
jika semua tak ada„ bahkan kedua nafas kedua orang tuaku, meridhokan bagi kami bertiga„ aku hanya memiliki mereka berdua„ dikala semua tak ada„,Aku berjuang untuk ini, bukan untukku tapi untukmu dan untuknya„ Kakaku, dan adiku„
Berat ku tempuh jogja dengahn semampuku, dayaku habis, aku memikul beban untuk kebahagiaan mereka berdua„ tak perduli aku bagaimana, aku berjuang terbaik hanya ingin memastikan merka tak kekuarangan apapun nantinya.. lalu aku berkata lagi
Aku hanya memiliki mereka berdua dalam hidupku..
Aku berjuang buakn untuk diriku„ tapi untuk dirimu dan dirinya„ kakakku dan adikku..
Aku berucap kembali dan terakhir„
Aku hanya memiliki mereka berdua„
Hidupku, lelahku, tangisku dan bertapa beratny hidup di JOgja„ kamu ataupun dia tak tahu„ aku sering menangis setiap mammal memikirkan nasibku, nasibmu dan nasibnya„ lalu aku berkata..
Aku berjuang„ untuk memastikan kau ada, dia ada , dan tak kekuarangan satupun„
Insya Allah„ aku mendapatkan kekuatan itu„ untuk tetap maju„
KUliahku banyak!! Keluhku setiap harii, apa kau dan dia mendengarnya„„
Hanya aku yang tau, bertapa sulitnya aku tinggal di kota itu , Jogja„,
Ku menangis karena cinta, Jogja mengajarkan aku cinta„ cinta kepada saudara, cinta terhadap keduanya yang mungkin sering kuabaikan„
Stasiun berhenti tepat pukul 07.30..
Aku berhenti di stasiun seperti yang ibu bilang„
Agak sulit keluar dari tempt ini, tap mereke berdua menolongku, bahagia membuat satu jam ini dengan dengan perasaan gembira dan sedih„
Saatnya ku pergi„ mereka mulai memalingkan bahu, dan aku ditinggal sendiri karena aku yakin aku bsa menemukan gambir sendiri„,merek tenang karena aku mandiri„
Kulambaikan tanganku di belakang bahu mereka„ aku yakin mereka tak melihatnya„sambil menangis yang tak dapat kutahan„sampai kata “dadah” ucapan selamat tinggal hanya terucap didadaku„
Aku memandangi bahu keduanya yang semakin jauh„
Jauh„ dan jauh„
Aku berkata untuknya dan untukmu„
Aku sayang kalian berdua„ hanya kalian yang kupunya
Kakak Dan Adiku.. :’)
The End (Gita)